Kilas Sejarah

Mengulik Kisah Hotel des Indes, Tempat Menginap Tokoh Besar Dunia dan Termegah di Batavia

Hotel ini juga pernah jadi tempat perjamuan tamu-tamu negara Indonesia sebelum dibangunnya Hotel Indonesia di Jalan Thamrin pada 1962.

Arsip Nasional
Hotel des Indes di Molenvliet. 

Keberadaan hotel ini sempat diiklankan di koran Java-bode terbitan 14 Mei 1856. Menariknya, dalam koran berbahasa Belanda ini, keberadaan hotel tersebut diiklankan dengan narasi berbahasa Prancis.

"Memang waktu itu segala sesuatu yang berbaha Prancis dianggap keren dan hits," ucap Nadia.

Selain terkenal dengan kemegahan bangunan di area yang banyak pohon rindangnya, Hotel des Indes juga terkenal kemewahan makanan rijsttafel-nya.

Alfred Russel Wallace, penjelajah sekaligus ilmuwan terkenal, mengaku terpesona dan puas dengan pelayanan hotel ini saat dirinya mengunjugi Batavia pada tahun 1861.

"Hotel des Indes sangat nyaman, setiap tamu disediakan kamar duduk dan kamar tidur menghadap ke beranda. Di beranda, tamu dapat menikmati kopi pagi dan kopi sore. ... Pada pukul sepuluh disediakan sarapan table d'hôte, dan makan malam mulai pukul enam, semuanya dengan harga per hari yang pantas," tulis Wallace dalam The Malay Archipelago (1869).

Baca juga: Unik! Di Hostel Neko Hatago Osaka, Kita Bisa Tidur Ditemani Kucing yang Menggemaskan

John T. McCutcheon menulis pada 1910 bahwa bila dibandingkan dengan Hotel des Indes, semua hotel di Asia berada di bawahnya. Lebih lanjut, ia bercerita tentang kemewahan rijsttafel di hotel ini.

"Anda harus makan siang lebih awal agar ada cukup waktu untuk menikmatinya sebelum makan malam. Makan siang disajikan oleh 24 orang pelayan yang berbaris memanjang, mulai dari dapur hingga ke meja, dan kembali ke dapur dengan berbaris. ... Setiap pelayan membawa sepiring makanan berisi salah satu lauk dari keseluruhan 57 lauk pauk untuk rijsttafel. Anda mengambil sendiri lauk dengan sebelah tangan hingga lelah, lalu bergantian dengan tangan yang sebelah lagi. Ketika Anda sudah siap makan, piring anda terlihat seperti bunker di padang golf yang dipenuhi nasi," tulisnya.

Meski terkenal sebagai hotel yang mewah, ada cuplikan tragis juga mengenai Hotel des Indes. "Pernah masuk koran, berita kematian yang terjadi di Hotel des Indes," ungkap Nadia. Berita kematian bunuh diri itu masuk adala koran Java-bode terbitan 1 Juli 1857.

"Bunyi beritanya kira-kira begini: Pada pukul 6 pagi tanggal 27 hari ini (maksudnya 27 Juni 1857), pelayan Bapak W.H.B (pria berinisial W.H.B) tinggal di Hotel des Indes membangunkan tuannya sesuai dengan perintah yang diterima tadi malam sebelumnya, tetapi tidak menerima jawaban atas ketukan di pintu kamar. Terkejut dan khawatir tetang hal ini, dia kemudian memperingatkan pemilik hotel. Dan setelah pintu dibuka, pria tersebut ditemukan terbaring tak bernyawa di tempat tidur setelah bunuh diri dengan empat tusukan di dada kiri. Dia juga memlintir dasi hitam dengan sangat erat di lehernya. Belum diketahui penyebab bunuh diri ini."

Ruang makan Hotel des Indes.
Ruang makan Hotel des Indes. (Tropenmuseum)

Pada masa awal kemerdekaan, Hotel des Indes kemudian dianeksasi dan pemerintah Indonesia kemudian mengganti namanya menjadi Hotel Duta Indonesia pada 1960.

Namun, hotel itu terus mengalami penurunan pendapatan, terlebih pasca-1962. Saat itu, Presiden Soekarno meresmikan berdirinya Hotel Indonesia yang menjadi saingan berat hotel tiga zaman itu.

Dan mirisnya, pada 1971, bangunan hotel ini akhirnya dibongkar untuk dijadikan kawasan pertokoan Duta Merlin. Pertokoan Duta Merlin dibangun sejak 1974 dan rampung pada 1976, tepatnya diresmikan pada Oktober 1976.

Mengapa bangunan Hotel des Indes yang bersejarah itu dibongkar dan justru dijadikan kawasan pertokoan? Nadia mengatakan bahwa Hotel des Indes dianggap oleh sebagian orang sebagai sisa-sisa lambang kolonialisme sehingga dirobohkan.

Baca juga: Potret 6 Masjid Tertua di Indonesia Ini Simpan Banyak Sejarah Penyebaran Islam

Selama masa Hindia Belanda sampai masa kemerdekaan Indonesia pun, hanya segelintir orang kaya saja yang bisa atau diperbolehkan masuk ke hotel mewah ini. Pada akhirnya hal ini memicu kecemburuan sosial juga.

Selain itu, pada tahun 1970-an para pebisnis di Indonesia juga sedang gencar-gencarnya membangun pusat pertokoan atau pusat perbelanjaan sehingga perlu tempat sekaligus izin untuk pembangunan kawasan baru lainnya. "Karena pusat perbelanjaan (di Jakarta) saat itu baru ada Sarinah. Tempat-tempat belanja lainnya masih berupa pasar dan pasar," papar Nadia.

Di antara dua alasan itu, menurut Anda, manakah yang lebih masuk akal: Pemerintah Indonesia merobohkan Hotel des Indes untuk menghapus simbol kolonialisme, atau lantaran lobi-lobi dari para pengusaha?

Apa pun yang terjadi di balik perobohannya, hidup dan matinya Hotel des Indes tetaplah tercatat sebagai bagian sejarah Jakarta, bahkan Indonesia. Bahkan, keberadaan hotel ini juga sempat dicatat dan ditulis oleh beberapa tokoh mancanegara.

Baca juga: Jangan Sampai Salah Pilih, Berikut Perbedaan Hotel, Hostel, City Hotel dan Resort

Hotel des Indes memang telah mati, tapi riwayat dan kenangan yang pernah terjadi di dalamnya tetap hidup hingga bertahun-tahun kematiannya.

Ade Purnama, pendiri Sahabat Museum, mengatakan kepada National Geographic Indonesia bahwa webinar Plesiran Tempo Doeloe ini merupakan gelaran ketujuh.

Edisi pertama jalan-jalan daring ini bertajuk Mengenang 80 tahun Serangan Jepang ke Pearl Harbor yang digelar pada pertengahan Desember silam. Berikutnya, berturut-turut menampilkan tajuk Perebutan Pala di Banda Neira, Membinasakan Kota Jayakarta, Peroesahaan Boplo membangoen Kondang-Dia, Kehidoepan di Tepi Kanal Molenvliet, Terbentoeknja Kampoeng Tjina Glodok, dan Matinja Hotel des Indes.

Adep, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa webinar Plesiran Tempo Doeloe mendatang bertajuk Kebajoran Bikinan CSW, yang digelar pada 27 Februari 2022.

"Alasan Sahabat Museum membuat forum ini agar dapat terus berkarya dalam memberikan kisah sejarah tempo doeloe kepada masyarakat di masa pandemi ini," pungkasnya.(*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved