Kilas Sejarah

Mengulik Kisah Hotel des Indes, Tempat Menginap Tokoh Besar Dunia dan Termegah di Batavia

Hotel ini juga pernah jadi tempat perjamuan tamu-tamu negara Indonesia sebelum dibangunnya Hotel Indonesia di Jalan Thamrin pada 1962.

Arsip Nasional
Hotel des Indes di Molenvliet. 

TRIBUNPONTIANAKTRAVEL- Dibangun pada abad ke-19 di atas tanah seluas 3,1 hektare, Hotel des Indes dahulu pernah berfungsi sebagai tempat perjamuan negara Hindia Belanda lo Tribuners.

Berdiri di kawasan Harmoni, hotel ini menjadi daya tarik bagi siapa pun yang berpelesir ke Batavia, terutama ke wilayah Molenvliet yang sekarang telah menjadi Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada.

Hotel termegah di Batavia pada masanya ini pernah menjadi tempat meng‌inap banyak tokoh besar dari berbagai negara.

Baca juga: Gedung Djoeang 45, Destinasi Wisata Sejarah Milenial Solo yang Instagramable

Bahkan, hotel ini juga pernah jadi saksi peristiwa besar yang menentukan nasib bangsa Indonesia: Perjanjian Roem-Royen pada 1949.

Hotel ini juga pernah jadi tempat perjamuan tamu-tamu negara Indonesia sebelum dibangunnya Hotel Indonesia di Jalan Thamrin pada 1962.

Pada 1955 para kepala negara peserta Konferensi Asia-Afrika (KAA) tinggal di Hotel Des Indes Jakarta, meski KAA berlangsung di Bandung.

Hotel ini beroperasi dengan nama Hotel des Indes sejak 1856 hingga tahun 1960. Sebelum bernama Hotel des Indes, tempat ini telah menjadi hotel dengan nama lain yang sempat berganti nama beberapa kali.

Baca juga: Cara Mudah Cari Info Desa Wisata Lewat Aplikasi Ini, Cek Yuk!

Jauh sebelum itu, sekitar tahun 1760, lima persil atau kavling tanah untuk lokasi hotel ini masih dimiliki oleh beberapa orang yang berbeda.

Mereka adalah Arnoldus Constantyn Mom untuk persil nomor 389, Adriana Johanna Bake (Wevrouw van der Parra) untuk persil nomor 390 dan 391, Reiner de Klerk untuk persil nomor 392, dan Andriaan Moens untuk persil nomor 393.

Pada tahun 1824 tanah dan bangunan di persil nomor 392 dibeli oleh pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1828, pemerintah Hindia Belanda menjadikan tanah dan bangunan ini sebagai sekolah asrama putri tapi kemudian sekolah asrama ini justru terabaikan.

Baca juga: Wisma Delima, Hostel Murah Tertua di Jakarta yang Pernah Jadi Favorit Wisatawan Asing

Pada 1829, tanah dan bangunan di atas lokasi ini dibeli orang Prancis bernama Surleon Antoine Chaulan yang mendirikan sebuah hotel yang ia namai Hotel de Provence.

Nama de Provence diambil dari nama daerah di selatan Prancis yang merupakan daerah asal ayah Chaulan.

Pada 1838-1839, Etienne Chaulan, kakak Surleon Antoine Chaulan, mengakuisisi persil-persil lain di sekitar persil ini. Tahun 1845, Etienne Chaulan mengambil alih Hotel de Provence dari tangan adiknya dan memperluas kawasan hotel ini.

Pada tahun 1851, di bawah manajemen Cornelis Denninghoff, hotel ini berganti nama menjadi Hotel Rotterdam, mengambil nama daerah di selatan Belanda. Dan tahun 1852, hotel ini dibeli orang Swiss bernama François Auguste Emile Wyss yang menikah dengan keponakan perempuan dari Etienne Chaulan atau anak perempuan dari Surleon Antione Chaulan.

Hotel des Indes tahun 1910.
Hotel des Indes tahun 1910. (Tropenmuseum)

Ketika hotel ini masih dikelola oleh Wyss, Eduard Douwes Dekker alias Multatuli pernah berkunjung ke sana bersama keluarganya.

Dia adalah penulis Belanda yang terkenal dengan Max Havelaar, novel satirisnya yang berisi kritik atas perlakuan buruk para penguasa terhadap orang-orang pribumi di Hindia Belanda.

Kunjungan Multatuli ke hotel ini tercatat dalam sebuah koran pemerintah Hindia Belanda. "Dalam Javasche Courant yang tebit pada 30 April 1856, itu ada nama Eduard Douwes Dekker dan famili dari Lebak (Banten).

Jadi, Multatuli pernah menginap di hotel ini ketika masih bernama Hotel Rotterdam," tutur Nadia Purwestri, Direktur Eksekutif Pusat Dokumentasi Arsitektur, dalam acara Plesiran Tempo Doeloe (virtual tour): "Matinja Hotel des Indes" yang diselenggarakan oleh Sahabat Museum pada Minggu, 13 Februari 2022.

Pada 1 Mei 1856, Wyss mengganti nama hotel ini menjadi Hotel des Indes. "Kalau menurut ceritanya, Multatuli lah yang menyarankan agar nama hotel ini diganti dengan nama yang lebih menggugah atau lebih menjual. Soalnya nama Hotel Rotterdam kurang menjual," kata Nadia.

Baca juga: Oleh-oleh Khas Mandalika yang Cocok Dibawa Pulang, Apa Saja?

Jadi, Wyss mengubah nama Hotel Rotterdam menjadi Hotel des Indes atas usulan Multatuli. Dan dengan nama Hotel des Indes, hotel ini akhirnya kembali berbau nama Prancis yang dianggap lebih menjual.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved