Tahun Baru Imlek 2021

Selain Lampion, Berikut Sejarah Cheongsam Baju Ikonik Saat Perayaan Imlek

Selain pernak-pernik dan makanan, perayaan Imlek juga biasanya dimeriahkan dengan memakai cheongsam.

Pixabay/wxmwxm0612
Cheongsam, pakaian ikonik wanita Tionghoa yang punya sejarah panjang. 

TRIBUNPONTIANAKTRAVEL- Tribuners, sebentar lagi kita akan merayakan Tahun Baru Imlek.

Perhelatan ini, tentu sangat dinantikan serta penuh dengan kemeriahan.

Tentunya kita sering melihat beragam pernak-pernik khas budaya Tionghoa menghiasi setiap sudut kota.

Termasuk lampion, pohon angpao, kue keranjang, hingga aneka hiasan gantung yang identik dengan warna merah dan emas.

Selain pernak-pernik dan makanan, perayaan Imlek juga biasanya dimeriahkan dengan memakai cheongsam.

Traveler tentu sudah tidak asing lagi dengan gaun cheongsam atau yang disebut juga dengan qipao dalam tradisi Tionghoa.

Rupanya, ada fakta menarik di balik gaun ikonik khas wanita Tionghoa ini.

Sejarah pakaian cheongsam ini mencerminkan kebangkitan wanita Tionghoa modern di abad ke-20.

Baca juga: Makna Filosofis Lampion Merah Saat Perayaan Tahun Baru Imlek

Baca juga: Dianggap Bisa Bawa Sial, 5 Makanan Ini Pantang Dikonsumsi Saat Tahun Baru Imlek

Dikutip TribunTravel dari laman theculturtrip.com, keberadaan cheongsam dimulai dengan penggulingan Dinasti Qing dan berdirinya Republik Tiongkok pada tahun 1912.

Pada pertengahan 1910-an dan awal 1920-an, para intelektual Tiongkok mulai memberontak terhadap nilai-nilai tradisional.

Mereka menyerukan basis masyarakat yang demokratis dan egaliter, termasuk emansipasi dan pendidikan wanita.

Praktik mengikat kaki gadis muda untuk mencegah pertumbuhannya pun dilarang.

Pada tada tahun 1920-an, wanita diizinkan masuk ke sistem pendidikan, jadi guru dan murid, termasuk mengganti pakaian tradisional yang seperti jubah.

Wanita diperbolehkan mengadopsi model pakaian pria pada saat itu yang disebut changpao atau changsan.

Shanghai, sebagai kota pelabuhan yang aktif dan dinamis dengan populasi orang asing yang cukup besar, menjadi ujung tombak peralihan mode ini.

Pada awal tahun 1920-an, cheongsam memiliki potongan yang lebih longgar daripada cheongsam masa kini.

Lengannya panjang dan lebar.

Namun, cheongsam semakin berkembang menyesuaikan model pakaian biasa wanita urban di kota metropolitan, seperti Beijing, Shanghai, Hong Kong, dan Taiwan.

Seiring perkembangan garmen, sutra tradisional diganti dengan tekstil kontemporer yang lebih murah.

Dari segi desain, motif bunga sulaman tradisional tetap sama, tetapi pola geometris dan art deco kini lebih populer.

Sepanjang tahun 1930-an dan 1940-an, cheongsam terus berubah, menonjolkan feminitas dan seksualitas wanita Tionghoa perkotaan.

Gaun cheongsam dibuat lebih pas dengan menyesuaikan lekuk tubuh.

Beberapa desain cheongsam bahkan lebih berani dengan menampilkan belahan samping hingga paha.

Biasanya cheongsam dipasangkan dengan sepatu hak tinggi.

Hingga akhirnya banyak wanita melakukan mix and match dengan cheongsam, mulai menambahkan ikat pinggang, membuat lengan pendek, manset lapis bulu hingga cheongsam tanpa lengan.

Namun, tak lama setelah kebangkitan pemerintahan Komunis, cheongsam yang dianggap borjuis menghilang dari kehidupan sehari-hari di daratan Tiongkok. 

Di Shanghai , tempat kelahiran cheongsam, jalanan dipatroli untuk memastikan tidak ada yang mengenakan pakaian modis. 

Ideologi egaliter yang dianut oleh Komunis membuat wanita mengadopsi tunik yang terdiri dari jaket dan celana yang mirip dengan pria.

Sementara itu, popularitas cheongsam terus berlanjut di Hong Kong dan menjadi pakaian sehari-hari pada tahun 1950-an.

Di bawah pengaruh mode Eropa, cheongsam biasanya dikenakan dengan sepatu hak tinggi, rompi kulit, dan sarung tangan putih seperti yang terlihat pada film The World of Suzie Wong (1961).

Baca juga: 8 Hal yang Dilarang saat Imlek, Termasuk Tak Boleh Menyapu hingga Minum Obat

Pada akhir tahun 60-an, popularitas cheongsam menurun, digantikan oleh gaun, blus, dan setelan pakaian gaya Barat.

Pakaian Barat yang diproduksi secara massal ini lebih murah daripada cheongsam tradisional buatan tangan.

Hingga pada awal tahun 1970-an, cheongsam tidak lagi menjadi pakaian sehari-hari bagi kebanyakan wanita di wilayah China.

Namun, cheongsam tetap menjadi pakaian penting dalam sejarah mode wanita Tiongkok.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved