Pegunungan Alpen

Gletser Terus Mencair, Bunga Endemik Pegunungan Alpen Terancam Punah

Namun bunga endemik di Pegunungan Alpen tersebut terancam punah karena gletser terus mencair.

Editor: Rizki Fadriani
Net
Leontopodium alpinum 

TRIBUNPONTIANAKTRAVEL - Pegunungan Alpen merupakan pegunungan besar di Eropa yang membentang dari Austria dan Slovenia di timur, melalui Italia, Swiss, Liechtenstein, dan Jerman, sampai ke Prancis di barat.

Pegunungan ini, tidak hanya terkenal dengan habitat puluhan ribu satwa liar saja, melainkan terdapat pula bunga endemik.

Namun bunga endemik di Pegunungan Alpen tersebut terancam punah karena gletser terus mencair.

Mencairnya gletser ini akan sangat berpengaruh pada ekosistem Pegunungan Alpen, termasuk flora dan fauna yang ada di sana.

Hal ini tentu menjadi kabar yang tidak menyenangkan karena keanekaragaman hayati pegunungan Alpen akan menurun secara keseluruhan yang berimbas pada ekosistem pegunungan tersebut.

Seperti dikutip dari Guardian, Sabtu (30/1/2021) peneliti mengungkap bahwa 22 persen spesies yang diteliti di pegunungan Alpen Italia akan punah 150 tahun lagi setelah gletser menghilang.

Baca juga: Menakjubkan! Seperti ini Potret Aurora yang Berhasil Astronout Tangkap dari Luar Angkasa

Baca juga: Sebelum Traveling, Baca Doa Ini Agar Senantiasa Diberi Perlindungan dan Keselamatan

Beberapa tanaman endemik yang termasuk di dalamnya adalah mossy saxifrage, purple mountain saxifrage, dan mignonette-leaved bitter-cress.

Dalam studi yang dipublikasikan di Frontiers in Ecology and Evolution peneliti mengungkapkan bahwa lingkungan proglasial sangat sensitif terhadap pemanasan global sehingga spesies pegunungan menjadi rentan terhadap kepunahan.

Tanaman di wilayah tersebut perlu pindah ke habitat yang lebih dingin saat iklim menghangat, tetapi tak ada lagi ruang bagi mereka saat gletser mencair.

Hal tersebut nampaknya juga diperparah dengan adanya persaingan dengan spesies tanaman lainnya.

Peneliti menuturkan spesies tanaman yang lebih kompetitif bertahan dengan cara apapun misalnya dengan tumbuh dekat tanah agar tak tertiup angin.

Tanaman-tanaman yang dapat bersaing tersebut seperti misalnya alpine sedge, alpine meadow-grass, and dwarf yellow cinquefoil pun akhirnya dapat bertahan hidup dan mulai menggerus keberadaan keberadaan tanaman lain yang kurang adaptif.

Kepunahan tanaman di pegunungan Alpen memiliki arti yang sangat penting karena kemungkinan besar akan menyebabkan kepunahan lokal lainnya.

Baca juga: Mulai dari Danau hingga Bangunannya, Ini Dia 5 Tempat Wisata di Vaud, Swiss, yang Patut Dikunjungi

Baca juga: Catat Waktu Terbaik untuk Berlibur ke Swiss

"Mereka produsen utama. Mereka bukan hanya makanan kita tetapi juga bahan bakar untuk semua ekosistem baik itu predator, parasit, herbivora, dan penyerbuk," ungkap Dr Gianalberto Losapio, ketua peneliti dan ahli ekologi di Universitas Stanford.

Menurut Losapio, selain bekerja untuk mengurangi emisi, mendidik masyarakat dan meningkatkan kesadaran tentang ekosistem pegunungan yang rapuh dapat membantu lingkungan ini.

"Laporan ini sangat berharga karena perkiraan tersebut memungkinkan para konservasionis untuk memprediksi dengan lebih baik perubahan yang sedang terjadi. Kita harus bekerja sama untuk memenuhi tantangan perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati," tambah Ian Dun, kepala eksekutif Plantlife.

Dalam studi ini peneliti menggunakan catatan geologi untuk merekonstruksi gletser.

Informasi kemudian digabungkan dengan survei terhadap 117 spesies tanaman yang diamati, serta analisis kondisi lingkungan setempat.

Dengan menggabungkan kumpulan data, peliti dapat memeriksa perubahan selama 5000 tahun terakhir dan membuat prediksi untuk masa depan.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved