Industri Pariwisata di Normal Baru

Di Era Normal Baru, Hotel dan Resto Hadapi Tantangan

Pandemi yang menyerang dunia memang berimbas pada segala sektor, tak terkecuali sektor pariwisata Indonesia, khususnya hotel dan restoran.

Editor: Rizki Fadriani
Agoda
Layanan receptionist Bonnet Hotel Surabaya 

TRIBUNPONTIANAKTRAVEL - Pandemi yang menyerang dunia memang berimbas pada segala sektor, tak terkecuali sektor pariwisata Indonesia, khususnya hotel dan restoran.

Dengan sangat rendahnya tingkat permintaan, menjadi tantangan terberat yang yang tengah dihadapi oleh hotel dan restoran saat ini. 

Padahal, kecepatan pemulihan pada bisnis hotel dan restoran sangat bergantung pada permintaan dan efisiensi biaya operasional.

The Square di Surabaya.
The Square di Surabaya. (Agoda)

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran saat menjadi narasumber dalam sesi webinar “Strategi Pemulihan ‘Bounce Back Quickly’ Pariwisata di Masa Pandemi”, Rabu (3/11/2020).

Tantangan untuk hotel Hotel saat ini kesulitan untuk meningkatkan pendapatannya. Menurut Maulana, pendapatan hotel tergantung pada penjualan per hari yang dinilai dari beberapa hal.

Beberap hal itu, antara lain rata-rata harga penjualan kamar per hari, tingkat hunian kamar atau okupansi, dan makanan serta minuman jika ada.

Baca juga: Wah! Ada Traveloka Epic Sale, Jangan Sampai Ketinggalan 5-11 November 2020

Misalnya, adanya restoran dan acara pertemuan.

“Dari pendapatan hotel ini, kita lihat bahwa okupansi naik tidak diiringi dengan harga rata-rata kamarnya,” ujar Maulana.

Pasalnya selama masa normal baru ini, harga hotel bisa dianggap cukup murah.

Hal itu terjadi satu di antaranya saat libur panjang akhir Oktober 2020.

“Biasanya kalau sudah long weekend tiga hari itu, harganya sudah ketemu di publish rate. Seperti kita kalau ke Bali kemarin, harga yang harusnya per room per night Rp 1,5 juta, kemarin bisa dapat Rp 700.000–Rp 800.000 bisa nginap di bintang lima,” imbuh Maulana.

Pemandangan kolam renang di Gumilang Regency Hotel, Lembang.
Pemandangan kolam renang di Gumilang Regency Hotel, Lembang. ((dok. Gumilang Regency Hotel))

Baca juga: Nikmatnya Sate Jando di Bandung! Bikin Pembeli Rela Antre Berjam-jam

Jadi, okupansi yang naik bukan berarti pendapatan hotel akan meningkat.

Itu kemudian jadi masalah utama yang dihadapi industri hotel saat ini.

Selain itu, tantangan lainnya adalah untuk hotel-hotel yang pendapatannya bergantung pada acara Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition (MICE).

Karena kebijakan work from home, sejauh ini permintaan MICE hampir tidak ada.

Campanile Hotel & Restaurant Gent, Ghent.
Campanile Hotel & Restaurant Gent, Ghent. (booking.com)

Sementara itu untuk restoran, satu di antara tantangannya adalah mengubah sistem penjualan.

Biasanya, restoran sangat mengandalkan sistem penjualan offline.

Namun, sekarang ini metode penjualan online jadi lebih menjanjikan.

Meski begitu, tak semua restoran atau UMKM familiar dengan konsep penjualan online.

Pada akhirnya, banyak juga restoran yang mengubah konsep dari dine in (makan di tempat) menjadi take out atau drive thru.

Baca juga: Kembali Dibuka, Pegunungan Himalaya Siap Terima Turis

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved