Grebeg Maulud dan Sekaten Ditiadakan

Hindari Klaster Baru, Grebeg Maulud dan Sekaten Ditiadakan

Biasanya untuk menyambut Maulud Nabi, Keraton Yogyakarta akan menggelar Grebeg Maulud dan Sekaten.

Editor: Rizki Fadriani
TRIBUNJOGJA//Andreas Desca
Suasana pelataran Keraton Yogyakarta yang dipadati ribuan warga untuk melihat prosesi Grebeg Maulud, Minggu (10/11/2019). 

TRIBUNPONTIANAKTRAVEL - Ada yang berbeda dengan kegiatan Maulud Nabi kali ini di Yogyakarta.

Biasanya untuk menyambut Maulud Nabi, Keraton Yogyakarta akan menggelar kegiatan Grebeg Maulud dan Sekaten, namun selama Covid 19, kegiatan ini ditiadakan guna menghindari klaster baru.

Baca juga: Nikmati Promo Giant JSM 23 Sampai 27 Oktober 2020!

“Kedua upacara berpotensi mendatangkan massa. Sesuai anjuran pemerintah, sekarang ditiadakan,” kata Carik Tepas Museum Kraton Yogyakarta RA. Siti Amieroel N kepada Kompas.com, Sabtu (24/10/2020).

Meski tradisi menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW pada Kamis (29/10/2020) ditiadakan, sambung dia, prosesi tetap ada dengan dilakukan secara internal.

Selain Grebeg Maulud dan Sekaten, ritual adat lain, seperti Miyos Gangsa dan Kondur Gangsa pun tidak dilakukan. “Ada beberapa hal yang jadi peraturan di dalam keraton. Miyos Gangsa jatuh pada malam Jumat, jadi tidak diperkenankan membunyikan gamelan,” kata Amieroel.

Sama halnya dengan Miyos Gangsa, Kondur Gangsa pun tidak bisa dilakukan karena bertepatan pada malam Jumat. Selanjutnya, parade prajurit yang biasa dilakukan pada akhir perayaan Sekaten, yakni Grebeg Maulud juga ditiadakan.

Baca juga: Hindari Posting Foto Boarding Pass di Medsos, Ini Alasannya!

Baca juga: Lebih Hemat! Roblox Promo Code Oktober 2020, Dapatkan Fiery Fox Shoulder Pal dan Item Baru Lainnya

Miyos Gangsa dan Kondur Gangsa Amieroel menambahkan, esensi Sekaten adalah syiar agama Islam yang dilakukan di masjid besar. Caranya adalah dengan “memiyoskan gangsa” atau mengeluarkan gamelan ke masjid tersebut.

“Supaya menarik perhatian orang-orang untuk datang ke masjid guna mendengarkan apa itu Islam, dan lain sebagainya. Menceritakan tentang riwayat Nabi Muhammad SAW,” imbuh dia.

Sekitar Keraton Yogyakarta Mengutip Antara, Senin (12/10/2020), Miyos Gangsa adalah proses keluarnya gamelan Sekaten, yakni Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga dari Bangsal Ponconiti Keraton ke Masjid Gedhe Kauman.

Selanjutnya, penabuhan gamelan akan berlangsung sejak pagi hingga malam secara bergantian. Prosesi itu tidak hanya untuk memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga merupakan tradisi Sekaten.

Baca juga: Bahaya Mencampur 3 Makanan Ini dengan Nasi Putih, Bisa Ancam Kesehatan

Sementara itu, prosesi mengembalikan gamelan ke dalam keraton dinamakan Kondur Gangsa. Dilakukan secara terbatas Adapun, salah satu kegiatan yang paling dinantikan masyarakat sebelum pandemi adalah proses pembagian gunungan Grebeg Maulud.

Amieroel mengatakan, prosesi tersebut tetap dilakukan dengan melalui pengaturan terbaru dan secara terbatas.

Foto Wisatawan mengunjungi Keraton Yogyakarta, di Yogyakarta, Jumat (5/8/2016).(KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Foto Wisatawan mengunjungi Keraton Yogyakarta, di Yogyakarta, Jumat (5/8/2016).(KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO) (Kompas)

 “Sekarang, setelah didoakan, (gunungan) kita bagikan ke abdi-abdi dalem. Jadi tidak lagi diperebutkan,” ujar dia.

Amieroel melanjutkan, para abdi dalem kemudian bisa memberikan bagiannya kepada masyarakat.

Sebelum pandemi Covid-19, gunungan didoakan terlebih dahulu di masjid sebelum dibagikan dengan cara diperebutkan oleh masyarakat umum.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved